Jakarta, MCNID.net--Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya menjadi sarana introspeksi diri bagi setiap Muslim untuk sejauh mana telah meneladani teladan agung Sang Rasul. Rasa cinta (mahabbah) kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup sekadar diucapkan di lisan atau dirayakan secara seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan dan akhlak terpuji.


Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH M Cholil Nafis, mendorong umat Islam untuk secara khusus meneladani tiga sikap utama Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, yakni basthul wajhi (wajah dan perilaku ramah), kafful adza (tidak menyusahkan orang lain), dan bazhlun nada (rela berkorban untuk kebaikan).


"Akhlak Nabi yang sekarang ini perlu kita teladani lebih utama ada tentang sikap Nabi, yaitu basthul wajhi, kafful adza, dan bazhlun nada," ujar Kiai Cholil, Selasa (25/8/2026). 


Prinsip pertama yang ditekankan Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok ini adalah basthul wajhi. Meneladani sikap ini tidak sebatas menunjukkan ekspresi wajah yang berseri-seri, melainkan juga menghadirkan sikap dan perilaku yang memberi rasa nyaman bagi siapapun di sekitarnya.


"Tampilkan wajah yang ramah. Bukan hanya wajah dalam arti muka, tapi perilaku kita juga yang nyaman," tutur Kiai Cholil.


Sikap utama kedua adalah kafful adza, yakni kemampuan menahan diri agar tidak menjadi beban atau sumber masalah bagi orang lain. Kiai Cholil mengingatkan bahwa keberadaan seorang Muslim di tengah masyarakat seharusnya menjadi pengayom yang mencegah hadirnya keburukan.


"Di mana pun kita, jangan sampai kita yang bikin kesulitan. Kita harus menjadi orang yang mau menjaga diri dari memberatkan orang lain dan menjaga dari keburukan," jelasnya.


Sikap ketiga yang disoroti secara tajam oleh Kiai Cholil adalah bazhlun nada, yaitu kesediaan untuk berkorban demi kebaikan orang banyak. Ia prihatin melihat kondisi zaman sekarang, di mana krisis kepahlawanan kerap terjadi akibat maraknya pihak yang justru mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi.


"Kita sekarang ini susah mencari orang yang senang berkorban untuk kebaikan orang lain. Bahkan yang banyak sekarang adalah orang mengorbankan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Padahal Nabi mengajarkan kepahlawanan," tegasnya.


Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum MUI ini menegaskan bahwa implementasi dari ketiga sikap Rasulullah SAW tersebut akan melahirkan persatuan kokoh di tengah masyarakat. Hal ini sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW melalui Piagam Madinah yang kemudian mengilhami nilai Persatuan Indonesia dalam Pancasila.


Menurutnya, dinamika dan perbedaan pendapat boleh saja terjadi, namun semuanya harus berada dalam kerangka menjaga keutuhan NKRI. Sebab, kemajuan bangsa tidak akan pernah bisa diraih tanpa adanya persatuan.


"Mari kita tingkatkan diri menjadi orang yang beriman dan mengikuti Nabi. Karena sejatinya seorang mukmin dapat dilihat dari ucapan dan tindakannya yang menyelamatkan orang lain, membuat orang lain damai, dan membuat orang lain tenang," kata Kiai Cholil.