Jakarta, MCNID.net--Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan keputusan Pemerintah Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang tetap memberikan izin penyelenggaraan konser penyanyi Andrea Bocelli, di Candi Borobudur dan Jakarta.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menilai keputusan tersebut tidak konsisten dan bertentangan dengan komitmen yang sebelumnya disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Pariwisata RI, Bayu Aji, untuk menghormati dan mengikuti sepenuhnya keputusan serta arahan MUI mengenai konser Andrea Bocelli.

​"Saya sangat menyesalkan keputusan pemerintah yang ternyata tidak 'tegak lurus' (istilah yang disebut pejabat Kementerian Pariwisata usai pertemuan dengan MUI) dengan sikap dan pernyataan resmi MUI serta aspirasi masyarakat," tegas Prof Sudarnoto kepada MUI Digital, Selasa (27/10/2026) malam WIB.

Prof Sudarnoto menjelaskan bahwa MUI telah menyampaikan masukan dan pesan resmi kepada pemerintah terkait rekam jejak Bocelli. Berdasarkan sumber kelompok zionis di Amerika Serikat, Bocelli tercatat pernah tampil dalam acara penggalangan dana untuk tentara Israel (IDF) pada 2010.

​"Tentara Israel (IDF) dengan sangat nyata, dan semua orang tahu, adalah pelaku kejahatan yang sangat brutal dan sadis, yaitu genosida yang berlangsung sampai hari ini. Bocelli memang bukan zionis dan lirik-lirik lagunya bagus, tetapi tindakannya tampil bernyanyi di acara penggalangan dana FIDF membuktikan dukungannya kepada mesin pembunuh zionis," ujar Prof Sudarnoto.

Prof Sudarnoto menegaskan, sebagai penyanyi internasional, Bocelli diyakini paham siapa IDF saat menyanggupi tampil dalam acara tersebut. Oleh karena itu, penolakan MUI dan elemen masyarakat didasarkan pada alasan kemanusiaan dan penolakan terhadap penjajahan, bukan alasan lainnya.

​"Saya sungguh heran Indonesia bisa dijadikan tempat konser bagi seseorang yang nyata telah memberikan dukungan kepada pasukan penjajah. Padahal, amanat Pembukaan UUD 1945 sangat jelas. Seharusnya pemerintah menunjukkan komitmen sungguh-sungguh untuk menghapuskan penjajahan, bukan malah menerima seseorang yang nyata mendukung tentara penjajah," tambahnya.

Terkait adanya informasi mengenai bantuan 100 ribu pasang sepatu yang dikaitkan dengan kedatangan penyanyi tersebut, Prof Sudarnoto menilai hal itu tidak relevan dan tidak sebanding dengan kejahatan kemanusiaan di Palestina.

​"Soal sumbangan 100 ribu pasang sepatu, itu tak relevan dikaitkan dengan keberatan MUI dan masyarakat, apalagi jika sumbangan itu berasal dari promotor. Dan 100 ribu pasang sepatu sama sekali tidak sebanding dengan kebrutalan IDF membunuhi penduduk Gaza," tuturnya.

Meski pelaksanaan konser tinggal menghitung hari, MUI masih berharap pemerintah mau meninjau kembali izin yang telah dikeluarkan oleh Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto demi kemaslahatan umum dan keadilan bagi bangsa Palestina.

Di samping itu, Prof Sudarnoto juga menyampaikan pesan langsung kepada Bocelli dan tim manajemennya untuk menunjukkan iktikad baik secara terbuka.

​"Jika Bocelli sekarang benar-benar cinta kemanusiaan, tolong tunjukkan tidak saja dari lagu-lagunya. Buatlah pernyataan penyesalan atas keikutsertaannya dalam penggalangan dana untuk IDF, meskipun itu kesalahan masa lalu. Semoga Bocelli dan manajemennya bisa mempertimbangkan hal ini dengan baik," tegasnya.