Jakarta, MCNID.net--Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, membuka program Santri Matic (Santri Melek Teknologi) di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo, Sabtu (31/10/2026). Tujuannya membekali santri keterampilan teknis dan digital agar mampu membuka usaha dan bersaing di dunia kerja. 

Santri Matic diselenggarakan berkat kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama Kementerian Agama dan Masyarakat Ekonomi Syariah wilayah Surakarta, serta menggandeng Shopee Indonesia.

Dalam sambutannya, Basnang menilai bekal karakter santri sudah kuat. Yang perlu dikejar adalah keterampilan praktis. “Santri itu soft skill-nya sudah kuat, santri tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan perdagangan elektronik.” tegas Basnang.

“Kita ingin santri tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca perkembangan zaman,” Lanjut Basnang.

Menurut Basnang, penguatan teknologi tidak boleh mengikis jati diri pesantren. Justru memperkuat karakter santri yang sudah memiliki fondasi keagamaan kuat. “Prinsipnya sederhana, santri harus kuat dalam ilmu agama, unggul dalam ilmu pengetahuan, cakap dalam teknologi, mandiri dalam ekonomi, dan mulia dalam akhlak,” ungkapnya.

Ketua Komisi Pesantren MUI ini menyebut pesantren sudah memiliki modal untuk melatih keterampilan santri. Ia mengakui tidak semua BLK pesantren berjalan baik, sehingga mengajak kementerian lain ikut menghidupkannya kembali. 

"Berdasarkan data Kemenag, sekitar 4.000 pesantren memiliki Balai Latihan Kerja (BLK) dan sekitar 800 SMK berbasis pesantren. Fasilitas itu dapat dipakai untuk pelatihan fesyen, membatik, hingga pembuatan mesin" jelas Basnang. 

Materi Santri Matic mencakup pemanfaatan Shopee Marketplace, promosi, ShopeeFood, program afiliasi, dan pembuatan konten video. Basnang menekankan bahwa tujuannya lebih dari sekadar berjualan daring: membangun ekosistem kewirausahaan digital di pesantren.

“Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja,” katanya.

Basnang juga mengingatkan para santri agar penguasaan teknologi diiringi etika. Dalam aktivitas ekonomi digital, menurutnya, santri harus menjunjung kejujuran, amanah, tanggung jawab, profesionalitas, dan keadilan.