Jakarta, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menekankan pentingnya memaknai kembali hakekat persatuan di tengah dinamika kehidupan global yang semakin kompleks. Dalam pandangannya, persatuan umat dan bangsa sejati tidak pernah menuntut adanya keseragaman pemikiran maupun latar belakang, melainkan kemampuan dalam mengelola perbedaan secara bijaksana.
Hal tersebut disampaikannya saat hadir dan memaparkan makalah bertajuk “Membangun Persatuan Umat Yang Wasathi” pada Konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh International Union of Muslim Scholars di Istanbul, Turki, Kamis (29/10/2026) waktu setempat.
Di hadapan para delegasi internasional, Kiai Cholil menguraikan bahwa perbedaan agama, budaya, mazhab, hingga pandangan politik merupakan sunnatullah yang tidak seharusnya menjadi pemantik konflik atau perpecahan. Sebaliknya, keanekaragaman tersebut dapat ditransformasikan menjadi titik pijak untuk memperkuat ruang dialog, saling memahami, dan memperluas kolaborasi demi kepentingan kemanusiaan universal.
"Pengalaman Indonesia melalui Islam Wasathiyah dan peran Majelis Ulama Indonesia menunjukkan pentingnya membangun persatuan tanpa menyeragamkan pemikiran, serta mengelola keragaman tanpa mengorbankan prinsip," ujar Kiai Cholil dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menjelaskan bagaimana Indonesia berhasil merawat harmoni sosial dan integrasi nasional berkat penerapan paham keagamaan yang moderat (Wasathiyah) yang dibingkai oleh falsafah Pancasila sebagai dasar negara. Keberhasilan ini, menurutnya, menjadi bukti riil bahwa nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan dapat berjalan selaras tanpa harus menghilangkan identitas khusus dari masing-masing kelompok masyarakat.
Lebih jauh, Kiai Cholil menyoroti bahwa konsep Islam Wasathiyah tidak hanya relevan untuk menjaga stabilitas internal di Indonesia atau dunia Islam semata, tetapi juga menawarkan kerangka etis yang sangat krusial dalam menghadapi berbagai tantangan global era modern.
Kiai Cholil mengungkapkan bahwa tantangan tersebut meliputi maraknya polarisasi sosial-politik, konflik benturan peradaban, ancaman intoleransi, ketimpangan ekonomi, hingga dampak disrupsi teknologi.
Untuk merespons berbagai dinamika zaman yang terus berubah cepat, Kiai Cholil mengajak seluruh elemen ulama dan pemimpin dunia Islam untuk kembali meneguhkan nilai-nilai universal Islam, seperti keadilan, kasih sayang, keseimbangan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan perdamaian, seraya terus membuka ruang ijtihad yang konstruktif.
Kiai Cholil menyerukan kepada komunitas internasional agar bersatu padu menjadikan Islam Wasathiyah sebagai ikhtiar bersama dalam mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Kiai Cholil mengingatkan bahwa keberhasilan membangun peradaban masa depan bergantung pada kearifan dalam menyikapi perbedaan.
Kiai Cholil menegaskan bahwa persatuan tidak menuntut keseragaman, pembaruan tidak harus menghilangkan prinsip, dan perbedaan tidak harus berujung pada konflik destruktif.
Kiai Cholil Nafis Tegaskan Persatuan Umat tak Menuntut Keseragaman di Konferensi Internasional Turki
📅 30 Oktober 2026✍️ SadamBerita



