Jakarta, MCNID.net--Ketua Lembaga Advokasi dan Koordinasi Kesehatan Majelis Ulama Indonesia (LAKK MUI), Dr dr Bayu Wahyudi, mengungkapkan deretan penyakit mengerikan yang mengintai pelaku perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). 


Dari perspektif medis, aktivitas seksual kelompok ini termasuk dalam kategori perilaku berisiko tinggi yang memicu berbagai infeksi mematikan.


Dokter Bayu mengungkapkan bahwa ancaman kesehatan terbesar dari aktivitas tersebut adalah penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) massal serta serangan kanker pada organ-organ vital.


“Risiko kesehatan terbesar dari perilaku tersebut adalah penularan berbagai Infeksi Menular Seksual seperti HIV, sifilis, gonore, klamidia, hepatitis B, dan hepatitis C,” ungkap Dokter Bayu, Kamis (25/6/2026).


Tidak berhenti di situ, ia juga menegaskan adanya korelasi kuat antara perilaku seksual sesama jenis dengan pertumbuhan sel kanker ganas. Kanker ini dipicu oleh penularan Human Papillomavirus (HPV) yang masif akibat aktivitas seksual yang tidak lazim.


“Terdapat pula risiko kanker yang berkaitan dengan infeksi HPV, seperti kanker anus, kanker orofaring atau tenggorokan, serta kanker penis,” imbuhnya.


Di samping penyakit dalam dan kanker, pelaku hubungan seksual anal (yang umum dilakukan pasangan pria sesama jenis) juga dihadapkan pada ancaman trauma fisik lokal yang menyakitkan. Gesekan mekanis pada organ pembuangan dapat memicu kerusakan struktur otot dan jaringan di sekitar dubur.


“Perilaku seksual berisiko juga dapat menimbulkan trauma fisik dan infeksi lokal, seperti fisura anus (robekan dinding anus), proctitis atau radang rektum, abses perianal (bisul bernanah), hingga inkontinensia tinja (hilangnya kendali atas buang air besar),” jelasnya secara rinci.


Secara biologis, Dokter Bayu menerangkan mengapa rentetan penyakit ini begitu mudah menyerang kelompok tersebut. Berbeda dengan vagina yang memiliki dinding tebal, elastis, dan pelumas alami, jaringan rektum atau anus sangatlah tipis, rapuh, serta dipenuhi pembuluh darah.


Saat terjadi penetrasi, area rektum dipastikan mengalami mikrolesi atau luka-luka kecil yang tidak kasat mata. Ditambah absennya pelumas alami pada anus, gesekan yang terjadi menjadi jalur tol bagi virus dan bakteri untuk langsung merasuk ke dalam aliran darah tubuh.


Klaim medis ini diperkuat oleh data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC AS). Berdasarkan data statistik, risiko penularan HIV lewat hubungan anal tanpa kondom mencapai angka 1,4% (1 dari 71 kontak), sedangkan lewat hubungan vaginal hanya 0,08% (1 dari 1.250 kontak). Artinya, bahaya hubungan anal tercatat belasan kali lipat lebih mematikan.


Dokter Bayu mengingatkan bahwa komplikasi dari gaya hidup ini tidak hanya berhenti pada kerusakan fisik dan penyakit dalam. Tekanan psikologis, stigma, dan beban sosial yang ada juga membuat populasi pelaku LGBT secara statistik jauh lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, depresi akut, hingga memicu tindakan bunuh diri.